Allah menanamkan perasaan pada diri kita dengan begitu indahnya.
Membuat kita merajut angan dan harap, juga asa.
Senyuman pun tak ubahnya seakan yang paling berbahagia.
Pun air mata, tetesnya terkadang beriringan dengan hujan.
Sama derasnya.
Bagaimana dengan hatimu?
Bagaimana dengan harimu?
Bagaimana dengan duniamu?
Bagaimana dengan romansamu?
Aku....
Pernah suatu ketika, aku jatuh cinta untuk kali pertama.
Kapan tepatnya? Entah.
Mungkin rasa itu datang menyapa seiring kami bersama.
Tahun 2012 kala itu.
Dia hangat, sopan sikapnya, santun tutur katanya, membuatku selalu tertawa dengan renyahnya.
Aku suka dengan candanya, dengan tatapnya, dengan caranya menjagaku, dengan caranya mendapatkan hatiku.
Aku, seorang gadis yang telah jatuh cinta, dengannya Si Pembuat tawa.
Dan layaknya kisah cinta pertama kebanyakan orang, "Cinta Pertama tidak pernah berhasil."
Aku tahu rasanya kalimat keramat itu.
Kali kedua,
di tahun 2017 hatiku kembali ada yang menyapa.
Bulan November kala itu.
Aku ingat, terik namun hangat.
Semua terasa baru, semua terasa berbeda dengan sebelumnya.
Tentang sabar tiada batas, tentang menghargai waktu,
tentang menghalau ego dan cemburu,
tentang meredam rindu,
dan tentang belajar mengikhlaskan seseorang, lagi.
Namun begitu,
terimakasih.
Aku bersyukur.
Semoga kita berjalan dengan dewasa,
dan bahagia.
Kataku Biru, Tenang
Biru : langit cerah dan laut, Tenang. Walau tanpa kata terucap, dia indah menyuguhkan pana, menyiratkan bahagia dengan tenang.
Selasa, 28 Mei 2019
Sabtu, 25 Mei 2019
Mas
Akbar Sultoni Muhammad namanya.
Mas Toni, begitu aku memanggilnya.
Kami punya panggilan akrab masing-masing, di luar nama sesuai KTP kami.
Peng-iya segala mauku. Tanpa ku mintapun, dia meng-iya-kan.
Dia orang yang tidak akan membiarkanku bermain sendiri. Dulu, waktu kami kecil dia sering membuatku menangis hanya agar dia bisa bermain sendiri dengan teman-temannya tanpa aku (ya, tiap kali dia pergi bermain aku selalu ingin ikut). Lalu pergilah dia bermain tanpa aku yg sudah menangis dibuatnya. Tapi itu tidak bertahan lama, karena beberapa saat kemudian dia akan kembali ke rumah lalu mengajakku bermain dengannya. Manis sekali.
Pun sampai sekarang, dia tetap begitu.
Entah aku menangis karena apa, dia akan mengajakku pergi. Membeli jajan di alun-alun atau berkeliling kota menawarkan jajanan ini itu. Ya, dia paling tidak bisa melihatku menangis.
Dia selalu mengantarkanku ke tempat-tempat yang ingin ku datangi, mengambil fotoku memenuhi memori handphone nya.
Dia orang yang tidak bisa melihatku diam, ada saja usilnya.
Dia orang yang akan membelai kepalaku saat aku tertidur atau saat aku tidak bisa tidur atau saat dia membangunkanku dari tidur.
Dia orang yang sangat menyayangiku, membuatku bahagia dan bangga karena aku adalah adiknya.
Dan aku sangat menyayanginya.
Saat dia mempunyai kekasih lalu menikah, disitulah cemburuku ada. Orang yang selalu ada, akan berbagi waktu dengan orang lain selain aku.
Selanjutnya aku tahu, dia perlu menyayangi orang lain selain aku.
Dia bahagia dengan hidup barunya, dengan keluarga kecilnya. Itu cukup, karena aku tahu dia bahagia :)
Selasa, 25 September 2018
Bahagiamu Bahagiaku
Aku percaya walau aku tidak mengingatnya,
lembut alunan adzanmu di telingaku saat aku baru menghirup udara bumi ini.
betapa Allah menyayangiku, membiarkanku terlahir sebagai putimu.
Aku kira,
Bapak adalah orang yang tidak pernah sakit, tidak pernah lelah, tidak pernah jatuh, tidak pernah sedih, tidak memiliki luka.
Dalam ingatku, bapak hanya selalu dan terus tersenyum dan menuntunku meuju bahagiaku.
Dalam ingatku, bapak tidak pernah jatuh dan selalu kuat.
Dalam ingatku, bapak selalu menghapus air mataku.
Kini aku mengerti,
Bapak selalu kuat, karena ada tangan kecilku yang selalu dia genggam.
Kini,
Biar tangan kecil ini yang menggenggam tangan kuat itu.
Biar tangan kecil ini yang menuntunmu menuju bahagiamu.
Kini,
Biarkan aku menjadi kuat untukmu.
Aku akan menjagamu.
Tolong, tetaplah kuat dan sehat.
Tetaplah bahagia, tetaplah menemaniku.
Tetaplah menjadi rumahku yang hangat.
Aku mencintaimu, selalu :)
lembut alunan adzanmu di telingaku saat aku baru menghirup udara bumi ini.
betapa Allah menyayangiku, membiarkanku terlahir sebagai putimu.
Aku kira,
Bapak adalah orang yang tidak pernah sakit, tidak pernah lelah, tidak pernah jatuh, tidak pernah sedih, tidak memiliki luka.
Dalam ingatku, bapak hanya selalu dan terus tersenyum dan menuntunku meuju bahagiaku.
Dalam ingatku, bapak tidak pernah jatuh dan selalu kuat.
Dalam ingatku, bapak selalu menghapus air mataku.
Kini aku mengerti,
Bapak selalu kuat, karena ada tangan kecilku yang selalu dia genggam.
Kini,
Biar tangan kecil ini yang menggenggam tangan kuat itu.
Biar tangan kecil ini yang menuntunmu menuju bahagiamu.
Kini,
Biarkan aku menjadi kuat untukmu.
Aku akan menjagamu.
Tolong, tetaplah kuat dan sehat.
Tetaplah bahagia, tetaplah menemaniku.
Tetaplah menjadi rumahku yang hangat.
Aku mencintaimu, selalu :)
Jumat, 31 Agustus 2018
HER
Ada tangan yang ku tahu sangat lembut membelai,
ada senyum yang ku tahu sangat hangat tersungging,
ada mata yang ku tahu sangat sejuk menatap,
ada tutur yang ku tahu sangat nyaman didengar,
ada peluk yang ku tahu selalu terbuka untukku,
ada langkah kaki yang ku tahu tidak pernah lelah menuntunku,
ada hati yang ku tahu kasihnya selalu suci,
ada diri yang aku ingini menjadi sepertimu,
mama :)
ada senyum yang ku tahu sangat hangat tersungging,
ada mata yang ku tahu sangat sejuk menatap,
ada tutur yang ku tahu sangat nyaman didengar,
ada peluk yang ku tahu selalu terbuka untukku,
ada langkah kaki yang ku tahu tidak pernah lelah menuntunku,
ada hati yang ku tahu kasihnya selalu suci,
ada diri yang aku ingini menjadi sepertimu,
mama :)
Langganan:
Postingan (Atom)
Tentang Jatuh dan terimakasih
Allah menanamkan perasaan pada diri kita dengan begitu indahnya. Membuat kita merajut angan dan harap, juga asa. Senyuman pun tak ubahnya ...